American Heart Association (AHA)
telah mengeluarkan panduan Resusitasi Jantung paru (RJP) secara
periodik sejak tahun 1966 hingga sekarang. Publikasi panduan AHA tahun
2010 ini mengangkat banyak perhatian karena mengeluarkan sebuah
perubahan standarisasi algoritma baru terutama untuk BLS yang cukup
berbeda dari publikasi tahun 2005 yang telah dipakai secara universal
dalam berbagai elemen.
Basic Life Support (BLS)
BLS adalah pilar dasar pertolongan pertama henti jantung. Aspek
penting dalam BLS adalah pengenalan dini terhadap henti jantung dan
mengaktivasi sistem respon darurat untuk memanggil bantuan, RJP dini
yang berkualitas, penggunaan alat defibrilasi otomatis sesuai dengan
indikasi.
Gambar 1. Chain of Survival3
Perubahan yang terlihat adalah pada
algoritma Basic Life Support (BLS) umum untuk dewasa dan anak
(terkecuali neonatus), yaitu urutan “A-B-C” (Airway, Breathing, Chest
compression) yang telah lama digunakan kini berubah menjadi “C-A-B”
(Chest compression, Airway, Breathing). Rekomendasi ini berdasarkan
studi analisis komprehensif dari literatur mengenai resusitasi yang
pernah dipublikasikan. Proses ini berlangsung selama 36 bulan,
didalamnya terdapar 356 ahli resusitasi dari 29 negara yang telah
menganalisa, mengevaluasi, mendebatkan dan mendiskusikan hal tersebut.
Alasan untuk perubahan tersebut adalah :
• Henti jantung terjadi sebagian besar pada dewasa. Angka
keberhasilan kelangsungan hidup tertinggi dari pasien segala umur yang
dilaporkan adalah henti jantung dan ritme Ventricular Fibrilation (VF)
atau pulseless Ventrivular Tachycardia (VT). Pada pasien tersebut
elemen RJP yang paling penting adalah kompresi dada (chest compression)
dan defibrilasi otomatis segera (early defibrillation).
• Pada langkah A-B-C yang terdahulu kompresi dada seringkali
tertunda karena proses pembukaan jalan nafas (airway) untuk memberikan
ventilasi mulut ke mulut atau mengambil alat pemisah atau alat
pernafasan lainnya. Dengan mengganti langkah menjadi C-A-B maka
kompresi dada akan dilakukan lebih awal dan ventilasi hanya sedikit
tertunda satu siklus kompresi dada (30 kali kompresi dada secara ideal
dilakukan sekitar 18 detik).
• Kurang dari 50% orang yang mengalami henti jantung mendapatkan RJP
dari orang sekitarnya. Ada banyak kemungkinan penyebab hal ini namun
salah satu yang menjadi alasan adalah dalam algoritma A-B-C, pembebasan
jalan nafas dan ventilasi mulut ke mulut dalam Airway adalah prosedur
yang kebanyakan orang umum temukan paling sulit. Memulai dengan kompresi
dada diharapkan dapat menyederhanakan prosedur sehingga semakin banyak
korban yang bisa mendapatkan RJP. Untuk orang yang enggan melakukan
ventilasi mulut ke mulut setidaknya dapat melakukan kompresi dada.
AHA 2010 dalam panduannya memberikan 2 jenis algoritma BLS bagi
korban dewasa yaitu sederhana untuk penolong non petugas kesehatan dan
khusus untuk petugas kesehatan. Berikut algoritma terbaru dan
penjelasannya.
Gambar 2. Algoritma BLS sederhana2
Algoritma sederhana ini diperuntukan untuk semua penolong untuk mempelajari, mengingat, dan mempraktekkan.
Pengenalan dini. Jika seorang penolong menemukan korban dewasa yang
tidak ada respon (tidak ada pergerakan atau respon terhadap stimulus
luar) atau melihat korban tiba-tiba jatuh pingsan, maka penolong harus
memastikan keamanan tempat kejadian lalu mengecek respon dengan menepuk
bahu korban selagi meneriakkan nama korban. Jika penolong lebih dari
satu orang maka langkah-langkah dalam algoritma ini dapat dilakukan
bersamaan dan sinergis.
Aktivasi sistem respon darurat. Penolong sebaiknya mengaktivasi
sistem respon darurat yang dalam hal ini berarti menghubungi institusi
yang mempunyai fasilitas/layanan gawat darurat, hal ini dapat beruba
menghubungi rumah sakit, polisi, atau instansi terkait. Penolong non
petugas kesehatan harus siap menerima instruksi dan melakukannya.2
Jika melihat korban tidak berespon dan dan tidak bernapas atau hanya
sesak terengah-engah maka penolong dapat mengasumsikan bahwa korban
mengalami henti jantung.
Pemeriksaan denyut nadi. Riset menunjukkan bahwa terdapat kesulitan
dalam pemeriksaan denyut nadi korban baik dilakukan oleh penolong non
petugas ksesehatan ataupun petugas kesehatan sehingga dapat membuang
waktu yang berharga. Karena hal tersebut maka terdapat dua rekomendasi
baru yaitu :
• Untuk penolong non petugas kesehatan tidak dianjurkan untuk
memeriksa denyut nadi korban, penolong sebaiknya berasumsi bahwa korban
mengalami henti jantung jika melihat gejala yang disebutkan diatas.
• Untuk petugas kesehatan, pemeriksaan nadi korban sebaiknya tidak
lebih dari 10 detik jika lebih dari waktu tersebut tidak didapatkan
denyut nadi yang definitive maka petugas sebaiknya memulai RJP dengan
kompresi dada.
Resusitasi Jantung Paru dini. Berbeda dengan panduan BLS AHA 2005,
kompresi dada dilakukan terlebih dahulu sebelum adanya dua kali
ventilasi awal sehingga membentuk algoritma “C-A-B”. Kompresi dada
dilakukan sebanyak satu siklus (30 kompresi, sekitar 18 detik). Untuk
mendapatkan kompresi dada yang efektif dalam algoritma tersebut
terdapat dua kata kunci yaitu “push hard, push fast” yang berarti
“tekan kuat, tekan cepat” hal ini memudahkan penolong non petugas
kesehatan dalam melakukan kompresi seefektif mungkin. Dalam RJP yang
efektif, kecepatan kompresi diharapkan mencapai sekitar 100
kompresi/menit dengan kedalaman sekitar 5 cm (2 inchi). Lokasi kompresi
dilakukan pada tengah dada pasien.
Setelah kompresi dada dilakukan sebanyak satu siklus dilanjutkan
dengan ventilasi mulut ke mulut sebanyak dua kali ventilasi. Hal yang
perlu diperhatikan adalah berikan jarak 1 detik antar ventilasi,
perhatikan kenaikan dada korban untuk memastikan volume tidal yang
masuk adekuat, dan perbandingan kompresi dan ventilasi untuk satu
siklus adalah 30 : 2.
Pengunaan alat defibrilasi otomatis. Algoritma diatas menunjukan
adanya langkah terpisah untuk mendapatkan alat defibrilasi otomatis.
Jika hanya terdapat satu penolong maka sebaiknya setelah mengaktivasi
sistem darurat, penolong diharapkan mencari alat defibrilasi otomatis
(jika tersedia dan dekat) lalu kembali ke korban untuk melakukan RJP.
Jika ada lebih dari satu penolong maka langkah tersebut dilakukan
bersamaan.2
Tipe strategi RJP. Terdapat 3 pola strategi RJP yang dapat diterapkan pada penolong sesuai dengan keadaannya.
Pertama, untuk penolong non petugas kesehatan yang tidak terlatih,
mereka dapat melakukan strategi “Hands only CPR” (hanya kompresi
dada). Kompresi dada sebaiknya dilakukan hingga petugas kesehatan
hadir atau alat defibrilasi otomatis tersedia.
Kedua, untuk penolong non petugas kesehatan yang terlatih, mereka
dapat melakukan strategi RJP kompresi dada dan dilanjutkan dengan
ventilasi dengan perbandingan 30 : 2. RJP sebaiknya dilakukan hingga
petugas kesehatan hadir atau alat defibrilasi otomatis tersedia.
Ketiga, untuk petugas kesehatan, lakukan RJP kompresi dada sebanyak
satu siklus yang dilanjutkan dengan ventilasi dengan perbandingan 30 :
2. Lakukan hal tersebut hingga advanced airway tersedia, kemudian
lakukan kompresi dada tanpa terputus sebanyak 100 kali/menit dan
ventilasi setiap 6-8 detik/kali (8-10 nafas/menit). Untuk petugas
kesehatan penting untuk mengadaptasi urutan langkah sesuai dengan
penyebab paling mungkin yang terjadi pada saat itu. Contohnya, jika
melihat seseorang yang tiba-tiba jatuh, maka petugas kesehatan dapat
berasumsi bahwa korban mengalami fibrilasi ventrikel, setelah petugas
kesehatan mengkonfirmasi bahwa korban tidak merespon dan tidak bernapas
atau hanya sesak terengah-engah, maka petugas sebaiknya mengaktifasi
sistem respon darurat untuk memanggil bantuan, mencari dan menggunakan
AED (Automated External Defibrilator), dan melakukan RJP. Namun jika
petugas menemukan korban tenggelam atau henti nafas maka petugas
sebaiknya melakukan RJP konvensional (A-B-C) sebanyak 5 siklus (sekitar
2 menit) sebelum mengaktivasi sistem respon darurat. Sama halnya dalam
bayi baru lahir, penyebab arrestkebanyakan adalah pada sistem
pernafasan maka RJP sebaiknya dilakukan dengan siklus A-B-C kecuali
terdapat penyebab jantung yang diketahui.
Gambar 3. Algoritma BLS untuk petugas kesehatan
Untuk petugas kesehatan, prinsip dasar langkah-langkah algoritma tetap sama dengan yang sederhana.
Pengenalan dini. Jika melihat seorang yang tiba-tiba jatuh atau
tidak responsive maka petugas kesehatan harus mengamankan tempat
kejadian dan memeriksa respon korban. Tepukan pada pundak dan teriakkan
nama korban sembari melihat apakah korban tidak bernafas atau
terengah-engah. Lihat apakah korban merespon dengan jawaban, erangan
atau gerakan. Korban yang tidak responsif serta tidak ada nafas atau
hanya terengah-engah maka petugas kesehatan dapat mengasumsi bahwa
korban mengalami henti jantung.
Aktivasi sistem darurat. Petugas sebaiknya mengaktivasi sistem
respon darurat yang dalam hal ini berarti menghubungi institusi yang
mempunyai fasilitas/layanan gawat darurat, contohnya menghubungi rumah
sakit, polisi, atau instansi terkait.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pada AHA 2010 ini ada dua hal
yang tidak dianjurkan setelah memeriksa korban tidak responsif yaitu :
• Memeriksa ada tidaknya nafas pada korban dengan “look, feel,
listen”. Sulitnya menilai nafas yang adekuat pada korban merupakan
alasan dasar hal tersebut tidak dianjurkan. Nafas yang terengah dapat
disalah artikan sebagai nafas yang adekuat oleh professional maupun
bukan. Contohnya pada korban dengan sindroma koroner akut sering kali
terdapat nafas terengah yang dapat disalah artikan sebagai pernafasan
yang adekuat. Maka tidak dianjurkan memeriksa pernafasan dengan “look,
feel, listen” dan direkomendasikan untuk menganggap pernafasan terengah
sebagai tidak ada pernafasan.
• Memeriksa denyut nadi pasien. Untuk petugas kesehatan, pemeriksaan
nadi korban sebaiknya tidak lebih dari 10 detik jika lebih dari waktu
tersebut tidak didapatkan denyut nadi yang definitive maka petugas
sebaiknya memulai RJP.
Kedua hal tersebut tidak lagi dianjurkan bertujuan untuk meminimalisir waktu untuk memulai RJP.
Resusitasi Jantung Paru dini. Seperti yang telah disebutkan, mulai
RJP dengan algoritma “C-A-B” . Lakukan kompresi dada sebanyak 30
kompresi (sekitar 18 detik). Kriteria penting untuk mendapatkan
kompresi yang berkualitas adalah :
• Frekuensi kompresi setidaknya 100 kali/menit.
• Kedalaman kompresi untuk dewasa minimal 2 inchi (5 cm), sedangkan
untuk bayi minimal sepertiga dari diameter anterior-posterior dada atau
sekitar 1 ½ inchi (4 cm) dan untuk anak sekitar 2 inchi (5 cm).
• Lokasi kompresi berada pada tengah dada korban (setengah bawah
sternum). Petugas berlutut jika korban terbaring di bawah, atau berdiri
disamping korban jika korban berada di tempat tidur (bila perlu dengan
bantuan ganjalan kaki untuk mencapai tinggi yang diinginkan sehingga
dan papan kayu untuk mendapatkan kompresi yang efektif selama tidak
memakan waktu).
• Menunggu recoil dada yang sempurna dalam sela kompresi.
• Meminimalisir interupsi dalam sela kompresi.
• Menghindari ventilasi berlebihan.
• Jika ada 2 orang maka sebaiknya pemberi kompresi dada bergantian setiap 2 menit.
Setelah itu melakukan langkah Airway dan Breathing. Kriteria peting pada Airway dan Breathing adalah :
• Airway. Korban dengan tidak ada/tidak dicurgai cedera tulang
belakang maka bebaskan jalan nafas melalui head tilt– chin lift. Namun
jika korban dicurigai cedera tulang belakang maka bebaskan jalan nafas
melalui jaw thrust.
• Breathing. Berikan ventilasi sebanyak 2 kali. Pemberian ventilasi
dengan jarak 1 detik diantara ventilasi. Perhatikan kenaikan dada
korban untuk memastikan volume tidal yang masuk adekuat.
Untuk pemberian mulut ke mulut langkahnya sebagai berikut :
• Pastikan hidung korban terpencet rapat
• Ambil nafas seperti biasa (jangan terelalu dalam)
• Buat keadaan mulut ke mulut yang serapat mungkin
• Berikan satu ventilasi tiap satu detik
• Kembali ke langkah ambil nafas hingga berikan nafas kedua selama satu detik.
Jika tidak memungkinkan untuk memberikan pernafasan melalui mulut korban dapat dilakukan pernafasan mulut ke hidung korban.
Untuk pemberian melalui bag mask pastikan menggunakan bag mask
dewasa dengan volume 1-2 L agar dapat memeberikan ventilasi yang
memenuhi volume tidal sekitar 600 ml.
Setelah terpasang advance airway maka ventilasi dilakukan dengan
frekuensi 6 – 8 detik/ventilasi atau sekitar 8-10 nafas/menit dan
kompresi dada dapat dilakukan tanpa interupsi.
Jika pasien mempunyai denyut nadi namun membutuhkan pernapasan
bantuan, ventilasi dilakukan dengan kecepatan 5-6 detik/nafas atau
sekitar 10-12 nafas/menit dan memeriksa denyut nadi kembali setiap 2
menit.
Untuk satu siklus perbandingan kompresi dan ventilasi adalah 30 : 2,
setelah terdapat advance airway kompresi dilakukan terus menerus
dengan kecepatan 100 kali/menit dan ventilasi tiap 6-8 detik/kali.
RJP terus dilakukan hingga alat defibrilasi otomatis datang, pasien
bangun, atau petugas ahli datang. Bila harus terjadi interupsi, petugas
kesehatan sebaiknya tidak memakan lebih dari 10 detik, kecuali untuk
pemasangan alat defirbilasi otomatis atau pemasangan advance airway.
Alat defibrilasi otomatis. Penggunaanya sebaiknya segera dilakukan
setelah alat tersedia/datang ke tempat kejadian. Pergunakan
program/panduan yang telah ada, kenali apakah ritme tersebut dapat
diterapi kejut atau tidak, jika iya lakukan terapi kejut sebanyak 1
kali dan lanjutkan RJP selama 2 menit dan periksa ritme kembali. Namun
jika ritme tidak dapat diterapi kejut lanjutkan RJP selama 2 menit dan
periksa kembali ritme. Lakukan terus langkah tersebut hingga petugas
ACLS (Advanced Cardiac Life Support ) datang, atau korban mulai
bergerak.
Posisi mantap. Lebih dikenal dengan recovery posisition,
dipergunakan pada korban tidak responsive yang memiliki pernafasan dan
sirkulasi yang baik. Tidak ada posisi baku yang menjadi standar, namun
posisi yang stabil dan hamper lateral menjadi prinsip ditambah menaruh
tangan yang berada lebih bawah ke kepala sembari mengarahkan kepala
menuju tangan dan menekuk kedua kaki menunjukan banyak manfaat.2
Referensi:
• John M. Field, Part 1: Executive Summary: 2010 American Heart
Association Guidelines forCardiopulmonary Resuscitation and Emergency
Cardiovascular Care. Circulation 2010;122;S640-S656.
• Robert A. Berg, et al. Part 5: Adult Basic Life Support: 2010
American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation
and Emergency Cardiovascular Care. Circulation2010;122;S685-S705.
• Andrew H. Travers, et al. Part 4: CPR Overview: 2010 American
Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and
Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122;S676-S684
• Anggaditya Putra, MD.CPR ABC to ‘CAB’ New AHA guidlines for
resuscitation.http://www.exomedindonesia.com
/referensi-kedokteran/artikel-ilmiah-kedokteran/jantung-dan-pembuluh-darah-cardiovaskular/2010/11/06/cpr-abc-to-cba-new-aha-guidlines-for-resuscitation/